Pages

Haflatul Imtihan Madrasahku MRU (Madrasah Raudhatul Ulum)

Monday, June 16, 2014

15 tahun yang lalu, aku bermain disekitarmu, 15 tahun yang lalu aku duduk ditangga tempat naik kelantai 2 untuk bersantai, 15 tahun yang lalu aku bermain kelereng, bermain balogo, bermain benteng, bermain enggrang, bermain karet, dan bermain segala permainan pada musimnya masing-masing.
Ya, madrasah itu, adalah tempat pertama aku mengenal ilmu selain dari guru-guru pribadi, dimadrasah itu aku pernah nangis, dimadrasah itu pula aku pernah berdiri karena tidak hafal, dimadrasah itu pula aku pernah bersedih karena tidak mendapatkan nilai yang tidak memuaskan, dimadrasah itulah aku tumbuh, aku belajar mengenal kehidupan, aku belajar mengenal arti persahabatan, aku mengenal arti tolong menolong, aku mengenal arti membantu dan peduli pada orang lain. Ya madrasah itu, madarah Raudhatul Ulum.

Berdiri dipedalaman yang terpencil, disebuah desa yang jauh dari keramaian, tepatnya di Gunung Batu Sambung Makmur Banjarmasin Kal-Sel. Entah sudah berumur berapa tahun madrasah itu, yang jelas madrasah itu berdiri sejak perpindahan dari madrasah lama ke madrasah baru itu.
Ya itulah madrasahku,  madrasah desa yang hanya berkapur tulis, disana tidak ada LCD tidak ada Proyektor, tidak ada perpustakaan lengkap untuk belajar dan menelan banyak ilmu, disana tidak ada taman bermain yang bisa membuat mereka para murid semangat untuk belajar, ya disana bukanlah tempat yang sempurna. Kadang kala ketika aku berdiri memandang madrasah itu aku bergumam didalam hati “Kapan desa ini akan maju dalam bidang agama, jika madrasahnya hanya seperti ini?”. Tapi jika dibanding tidak ada sama sekali itu sudah merupakan kemulyaan.
Ya, disanalah aku berada, 15 tahun yang lalu. Aku tidak pernah tahu dan tidak pernah terbayangkan akan berada di Bogor jawa barat tepatnya di perumahan Azzikra sekarang, juga tidak pernah terbayang akan bisa kuliah diBogor dan dibiayai juga. Memang masa depan tidak ada yang tahu.
Ya itulah madrasahku, kecil namun bertingkat 2, bermurid sekitar 60 orang, yang besar sedikit berhenti karena malu dengan teman-temannya yang lain. Yang sudah agak berumur berhenti karena meneruskan rumah tangga. Yang agak nakal berhenti dan lebih memilih bekerja dikebun karet atau batu bara daripada belajar dan mencari ilmu dimadrasah dengan bangku usang tersebut.
Masuk kelaspun tak pasti, peraturannyapun tak begitu jelas, yang pasati dan yang kelihatan adalah “mengajar dan belajar”.
Guru-gurunyapun bukanlah para alumni-alumni pondok pesantren besar, kebanyakan mereka adalah orang-orang yang peduli dan perhatian pada agama dan masa depan para anak-anak kecil, toh walaupun kadang kepedulian itu tidak begitu dihiraukan dan tidak diperdulikan oleh orang tua murid yang ada.
Ya itulah madrasahku, dan langgar tempat aku mengajipun juga bernama Raudhatul Ulum, makanya kami sering menyebut diri kami sebagai “KELUARGA BESAR MADRASAH RAUDHATUL ULUM”.
Malam ini, madrasahku mengadakan “HAFLATUL IMTIHAN” penutupan tahun ajaran karena akan libur menyambut bulan puasa. Nanti malam akan mengadakan haflah, dan bagi teman-teman yang dekat dengan madrasah itu, datang ya, itu adalah masa lalu aku, masa 15 tahun silam, aku pernah duduk disana, pernah tertawa disana, pernah bersedih disana, pernah menangis disana, pernah berpeluh, pernah berkeringat, pernah dimarahin, pernah ngaji kitab, pernah jamaah asar, pernah sibuk dengan hal-hal yang pada dasarnya aku tidak begitu suka. Tapi itulah madrasahku, dan itu adalah bagian dari hidupku, aku selalu bangga dengan madrasah itu, toh walaupun aku hanya sampai kelas 5. Aku selalu bangga mengatakan jikalau aku bersekolah disekolah pedesaan dan pedalaman, aku selalu bangga dengan madrasahku, aku bangga dengan pondok pesantrenku, aku bangga dengan guru-guruku, bahkan kala sempat aku menyebut nama-nama mereka semua dalam doaku.
Nanti malam, datang ya, yang dikalimantan selatan Banjarmasin.
Doakan juga untuk semua, karena saat ini madrasah itu sedang dalam pelebaran dan pembesaran, doakan semoga tidak hanya besar gedungnya, tapi juga besar kualitasnya, tidak hanya megah kelihatannya, tapi memang megah dari akarnya.
Madrasahku, aku mencintaimu.
Sore tadi juga Babah sempat nelpon memberitahukan kalau nanti malam adalah perayaan, namun aku tidak bisa pulang karena memang ujian akhir sekolah masih tinggal 1 besok.
Madrasahku, aku merindukanmu, aku akan pulang kelak insyaalah pada 2020 kelak, setelah aku mengabdi untuk SIDOGIRI dan setelah aku menjalankan tugasku.
Madrasahku, selamat menjalankan imtihanan, dan selamat sukses untuk runtutan acaranya yang sudah dimulai 3 hari sebelumnya, baik dengan lomba abaca kitab dan yang lain.
Madrasahku, selamat. Aku merindukanmu, selamat dan jangan lupa datang ya,... bagi yang dekat-dekat dan masih di daerah banjarmasin.


#bantu share ya...

No comments:

Post a Comment