Pages

Pertunangan dalam tradisi Madura #kenangan dulu ini

Friday, February 27, 2015
Acara BEM 
Pada dasarnya manusia adalah makhluk social,yang mau tidak mau akan terus hidup secara bersamaan antara satu dengan yang lain. Kehidupan social ini akan terus mendorong manusia saling mengisi antara satu dengan yang lain. Keterkaitan ini menjadi dasar seorang untuk terus berhubungan dan bertautan antara satu dengan yang lain. Dengan hubungan inilah populasi manusia semakin hari semakin bertambah. Semakin banyaknya populasi manusia menjadi pendorong tersendiri untuk kemajuan dan kebaikan sebuah Negara kedepan.

Keterkaian ini, bermacam-macam bentuk dan gayanya, banyak pepatah mengatakan, lain lubuk laen ikannya, lain kota laen cuacanya. Begitupun dengan tradisi mempersatukan keterkaitan antara makhluk social ini. Berbeda propensi, berbeda pula gaya dan cara dalam menyatukan dua insan.
Di Aceh, di Sumatra, di Riau, di Pangkalanbun, di Banjarmasin dan di tempat-tempat laen memiliki gaya dan ciri khas tersendiri dalam tatacara menyatukan dua insan. Perbedaan-perbedaan semacam ini menjadi ciri khas dan khasanah tersendiri dalam melangsungkan pertalian. Menjadi keunikan dan kelebihan tersendiri untuk tempat-tempat tersebut.
Begitupun dengan orang-orang Madura. Orang Madura yang terkenal dengan keberanian mereka dalam menjejakkan kakinya di tempat-tempat yang tidak pernah mereka langkahi sebelumnya. Modal keberanian inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa orang Madura berada di mana-mana. Kalau orang bilang “jangankan di Surabaya ada Madura, di Mekkah aja banyak orang Madura”. Ungkapan ini menjadi ciri khas tersendiri untuk orang Madura.
Selain dalam hal itu, dalam tradisi penyatuan dua insanpun, Madura memiliki ciri khas tersendiri yang mungkin tidak pernah ada di propensi manapun.
Proses awal
          Diatas telah di sebutkan bahwasanya manusia adalah makluk social yang tidak mugkin tidak akan berorganisasi. Antara satu orang dengan orang yang lain saling mengisi dan saling kenal.
          Begitupun dengan maraknya dunia maya, juga menjadi proses awal dalam mendapakan pasangan. Maraknya FB, Twitter, dll, menjadi jalur tersendiri dalam kehdiupan manggalang proses perkenalan dan penyatuan dua hal yang sebelumnya jejaring social sudah menjadi jalan kedua dalam proses perkenalan dan penyatuan dua insan.
Dalam tradisi orang Madura, perkenalan antara dua individu inipun juga terjadi secara alami, toh walaupun tak sedikit dari orang-orang Madura yang menjodohkan anak-anak mereka dengan anak-anak saudaranya. Tak sedikit dari pembesar-pembesarnya Madura menjodohkan anak-anak mereka dengan pembesar yang lain. Sehingga dengan hal ini, mereka bisa saling menjaga keturunan satu dengan yang lainnya.
Bahkan bagi golongan priyayi menjodohkan anak-anak mereka menjadi tradisi tersendiri, dengan tujuan untuk merekatkan ikatan antara satu tampuk kepemimpinan dengan tampuk kempemimpinan yang lain. Sehingga bukanlah menjadi hal yang aneh jika satu madrasah atau satu pondok pesantren dengan yang lainnya memiliki kedekatan dan hubungan tersendiri.
Proses selanjutnya
     Setelah mengenal satu dengan yang lainnya. Baik karena bertemu sendiri atau karena memang di jodohkan oleh kedua orang tua mereka, prosespun berlanjut pada tahap setelahnya, yakni lamaran. Yakni orang tua calon suami mendatangi orang tua si perempuan dengan maksud dan tujuan meminta anaknya untuk tidak di lepas pada orang lain. Atau istilah maduranya, “epangger”, (diikat). Dengan artian orang lain udah tidak boleh lagi masuk untuk melamar perempuan tersebut karena sudah ada yang memiliki.
Proses semacam ini biasanya di barengi dengan membawa jajan-jajan pasaran. Yang paling terkenal untuk jajanan ketika pertunangan ialah “tettel, dan bejid”, (tettel”, jajanan yang terbuat dari ketan yang diolah sedemikian rupa sehingaa membentuk jajan yang enak dan bagus dilihat, biasanya berwana putih, “bejid”, sama halnya dengan “tettel”, hanya saja ia di campur dengan gula merah sebagai pemanisnya).
Selain membawa jajanan, biasanya proses ini di barengi dengan beberapa keluarga calon suami dan orang-orang yang dipercaayai orang tua calon suami untuk meminta sang anak perempuannya. Istilah Madura yang lebih terkenal dan yang sering terdengar kala lamaran di ucapkan oleh calon mertua atau orang yang di yakini mampu untuk menyampaikan tujuan dari kedatangan calon mertua tersebut. “koca’en be’en andik ajem bini” (kami dengar kamu memiliki ayam perempuan). Pelamar tersebut mengistilahkan calon istri sebagai ayam betina.
Setelah kesepakatan di ketemukan dan orang tua calon istri telah memberikan sinyal hijau pada calon suami, maka disanalah terjadi resmi pertunangan. Dengan artian si perempuan sudah milik si laki-laki dan si laki-laki itu sudah menjadi calon suami bagi si perempuan.
Proses pertengahan
                   Setelah semua proses selesai dan orang tua si perempuan telah memberikan lampu hijau dan telah di iyakan oleh semua pihak. Maka resmilah perempuan tersebut menjadi tunangan si laki-laki. Sehingga dengan terjadinya pertuanangan ini. Tidaklah di benarkan bagi laki-laki lain untuk masuk meminang pada perempuan tersebut. Ini sejalan dengan apa yang di ajarkan oleh sang baginda nabi.
          Setelah mereka resmi menjadi pasangan tunangan, maka dalam tradisi Madura sang calon suami harus memberikan baju baru pada hari raya, atau hari-hari laen. Ini lebih di kenal dengan “agentiih kalambeh” (mengganti baju). Begitupun kala ada acara-acara baik itu acara resmi atau acara laen, sang calon suami harus mengambili si calon istri tersebut untuk d ajak menonton dan menghadiri acara tersebut. Atau dalam istilah Madura lebih di kenal dengan “ngoniih bekal” mengambili calon istri.
          Keniscayaan semacam ini jika tidak dilakukan maka akan terasa hambar. Tradisi madura menjadikan tradisi ini menjadi sebuah pertanda kalau sang calon suami sudah mampu untuk memberikan belanja kepada sang calon istri. Kala keniscayaan ini tidak dilakukan, maka akan menjadi buah bibir tersendiri antara tetangga dan akan menjadi gosip dalam perkumpulan-perkumpulan.
          Selain memberikan baju, dan menonton tontonan, tradisi mengajak maen sang calon istri ke saudara-saudara sang calon suami, adalah hal yang sangat sakral dalam traidisi madura. Sehingga dari semua prosesi perkawinan, prosesi mengajak silaturrahmi ke rumah-rumah saudara sang calon suami atau ke keluarga-keluarga yang laen juga menjadi moment yang tidak boleh di lewatkan dalam perjalan penyatuan keluarga dalam tradisi madura.
          Semua traidisi itu, sudah mengakar kuat sejak orang tua mereka masih anak-anak. Tradisi yang terus di pertahankan ini, semakin hari semakin menipis dan terus mengurang. Seinring dengan berkembangnya tehnologi dan perubahan zaman yang begitu cepat. Hanya saja tradisi ini akan terus menerus ada dan di kenang oleh orang-orang madura.
          Pada dasarnya, tradisi mengajak nonton atau mengajak untuk silaturrahim ke keluarga adalah tradisi yang bertentangan dengan tradisi islam. Hal ini dikarenakan selama menjadi tunangan status mereka bukanlah suami istri namun masih ajnabi. Sedang ajnabi(lain mahram) dalam islam haram hukumnya untuk kumpul dan sering bersama.
Proses teakhir
          Dalam masa pertunangan, tradisi madura memiliki ciri khas tersendiri. Mereka menunangkan putra-putrinya selama waktu kesepakan yang disepakati ketika pertunangan awal yang hal ini di tentukan dari sang calon suami. Tak sedikit dari orang-orang madura yang menunangkan anak-anaknya selama 4 tahun, bahkan lebih. Hal ini terjadi karena tak jarang dari mereka yang sudah menunangkan anak mereka padahal sang anak masih berada di pondok pesantren atau masih melanjutkan studynya.
          Hanya saja lumrah dari pada pertunangan tradisi madura, 3 sampai 7 bulan. Selama masa-masa pertunangan ini, sang calon suami harus memberikan baju baru di waktu-waktu tertentu, harus mengajaknya bermain kerumah keluarga sang calon suami, juga mengajak sang calon istri untuk menonton acara atau hadir pada satu perkumpulan.
          Setalah selesai proses pertunangan. Setelah bermain kerumah sang calon suami, setelah menunggu selama satu bulan, atau lebih. Akhirnya sampai pada tujuan akhirnya, yakni menyatukan antara dua makhluk. Pernikahan.
          Tak ada perbedaan mencolok dalam kehidupan pernikahan orang-orang Madura. Sama halnya dengan pernikahan orang-orang dalam tradisi lain. Hanya saja perbedan yang mungkin tak ada dalam tradisi pernikahan selain madura.
          Hanya saja setelah pernikahant tradisi Madura memiliki tradisi laen yang tak bisa ditinggalkan toh walaupun tidak menjadi kewajiban, yakni membawa ranjang, lemari, dan tikar bagi sang suami. Ini menjadi penanda kalau ia telah resmi menjadi suami. Semua barang-barang tersebut di bawa oleh sang suami untuk di gunakan di rumah sang istri.
          Selama beberapa bulan, sang suami harus tinggal dirumah sang istri sebelum ia memiliki rumah sendiri. Berada di rumah istri ini sebagai pelajaran hidup dengan mertua dan hidup dengan keluarga dan dengan orang-orang yang belum pernah hidup serumah dan seatap.
          Tradisi ini terus berlaku dan berjalan dalam kehidupan Madura. Toh walaupun sebagaimana di jelaskan diatas, semakin berjalannya zaman dan keadaan tradisi semacam ini sedikit deimi sedikit terkikis. Sehingga agak terlihat jarang orang-orang Madura yang melakukan tradisi semacam itu begitupun dengan tradisi-tradisi laen. Ini karena perkembangan IT yang terus menggunung dan menjulang tinggi sedang pondasi kita para masyarakat tidaklah begitu kuat, kalau tidak mau di katakana bobrok.
          Setelah beberapa bulan sang suami hidup bersama keluarga sang istri (mertua), pada saat tertentu setelah oleh orang tua di rasa cukup, merekapun (pasangan suami istri) di buatkan rumah.
          Rumah inilah awal dari keidupan mereka yang sesungguhnya. Kehidupan mereka untuk mempersiapkan generasi-generasi penerus untuk kemajuan Desa, Kecamatan, Kabupaten bahkan Negara mereka.
          Dengan semua ini, terjadilah kehidupan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Konklusi dan Saran-saran
Ada beerapa hal yang menjadi inti daripada tulisan ini:
1.    Tradisi orang Madura dalam pernikahan seperti gambaran diatas masih belum benar-benar islami.
2.   Tak sedikit dari mereka yang juga tidak mengindahkanperaturan-peraturan islam yang ada.
3.    Dianggap lumrahnya tradisi-tradisi yang bertentangan dengan islam, sehingga hal ini akan membunuh karakteristik islam yang ada dalam diri individu tersebut.
Saran-saran
1.    Perlunya para ahli dan tokoh-tokoh Madura yang sedikit demi sedikit memberikan pengaarahan akan kekeliruanyang ada.
2.   Adanya control dari pemerintah atau tokoh dengan semua kegiatan dan perbuatan yang berkaitan dengan pernikahan,sehingga tidak keluar dari syariat.
3.    Perlunya pemerintah untuk membuat UU tersendiri mengenai pernikahan dan mengangkat dewan pengontrol untuk semua kegiatan pernikahan.
4.   Perlu memberi pejelasan dan pencerahan mengenai kehidupan rumah tangga baik dengan bangku pendidikan formal atau dengan segala bidang dan segala lini untuk memberikan arahan yang benar mengenai pernikahan.
5.    Perlunya pemerintah untuk bisa menyadarkan diri akan tuntunan perkawinan yang benar dan sejalan dengan agama islam.
6.   Pemerintah atau orang tua perlu memberikan pembekalan agar sang anak yang akan melangsungkan pernikahan bisa berjalan denga baik dan benar.
Keluar dari semua itu, indoneis memang penuh dengan tradisi dan berbagai macam istiadad. Kekayaan ini sudah selayanya untuk di banggakan dan di perhitungkan serta terus di expose keluar sehingga warga Negara sendiri tidak latah ikut-ikutan tradisi luar yang menurut mereka mode gaul dan keren.
          Boleh keren dan gaul, tapi tradisi dan budaya kita sendiri jangan sampai dilupakan.
Sebagai penutup, pendidikan menentukan karakter, karakter menentukan pola piker, pola pikir menentukan kinerja, dan kinerja menentukan hasil. Selama karakter dan pola pikirnya masih sama dengan yang kemaren-kemaren maka selama itu pula hasil yang di dapat akan tetap sama dan tidak berbeda.wallahu a’lam


M. Albilaluddin al-Banjari Bogor 29 Maret 2013.
M. Albilaluddin al-Banjari
Presiden Mahasiswa STEI Tazkia 2014-2015
Hp: 0858-558-321-66, 
Email: bilalgrups@gmail.com
Twitter:  @malbilaluddin1 
IG: Bilal Grup, BBM: 5281cb04, 
ID Youtobe :  M. AlbilaluddinID 

1 comment: